Seesaw obligasi: kenapa harga turun saat suku bunga naik?
Bayangkan obligasi seperti seesaw: di satu sisi yield (suku bunga), di sisi lain
price (harga). Kalau satu sisi naik, sisi lain pasti turun. Geser slider di bawah untuk
mengubah suku bunga pasar — lihat bagaimana harga obligasi bereaksi, dan kenapa obligasi tenor lebih panjang
lebih sensitif (duration besar).
Nominal
Rp 1.000.000
Kupon
6.5% / tahun
Tenor (Pilih)
5 tahun
6.5%
Yield
6.5%
Price
100.0%
Harga obligasi pada berbagai yieldPosisi sekarang
Geser slider yield untuk mensimulasikan perubahan suku bunga pasar. Coba juga ganti tenor — perhatikan obligasi 20 tahun jauh lebih sensitif daripada 2 tahun.
Yang ingin disampaikan
Hubungan terbalik (inverse) antara yield dan price adalah hukum dasar pasar obligasi:
Saat suku bunga pasar naik, obligasi baru terbit dengan kupon lebih tinggi → obligasi lama (kupon rendah) jatuh harganya supaya yield-nya kompetitif.
Saat suku bunga pasar turun, obligasi lama (kupon yang sekarang dianggap tinggi) naik harganya — premium di atas par.
Tenor lebih panjang = duration lebih besar = harga lebih sensitif. Obligasi 20 tahun bisa turun 15-20% kalau yield naik 1%; obligasi 2 tahun mungkin cuma 1-2%.
Ini sebabnya investor pakai duration untuk mengelola risiko suku bunga: kalau prediksi rate akan naik,
shift ke tenor pendek (proteksi). Kalau prediksi rate akan turun, perpanjang tenor (capture upside).